Tak Hanya Sawai, Warga Juga Belajar Inggris dan Jepang

  • Monday, Jul 17 2017
PEDULI BAHASA : entasan Bahasa Sawai dalam event Revitalisasi Bahasa Sawai oleh Komunitas Peduli Bahasa Sawai beberapa waktu lalu. Foto lain, Nikodemus Saureh saat mengajari anak-anak Bahasa Sawai di Taman Loiteglas Desa Were, Jumat (14/7) RIDWAN ARIF/MALUT POST PEDULI BAHASA : entasan Bahasa Sawai dalam event Revitalisasi Bahasa Sawai oleh Komunitas Peduli Bahasa Sawai beberapa waktu lalu. Foto lain, Nikodemus Saureh saat mengajari anak-anak Bahasa Sawai di Taman Loiteglas Desa Were, Jumat (14/7) RIDWAN ARIF/MALUT POST

Upaya Komunitas Peduli Bahasa Lestarikan Bahasa Daerah Weda, Halmahera Tengah

Bahasa Sawai merupakan bahasa daerah yang umum dituturkan di wilayah Weda, Halmahera Tengah. Seperti umumnya bahasa lokal, jumlah penuturnya kian hari kian menipis. Komunitas Peduli Bahasa Sawai pun tergerak untuk mengambil langkah.

RIDWAN ARIF, Weda

Sekelompok anak duduk beralaskan terpal di Taman Loiteglas, Desa Were, Kecamatan Weda. Beratapkan langit, berdindingkan tembok rendah taman. Di hadapan mereka, terdapat sebuah white board. Seorang pria berdiri tepat di sampingnya.
Dialah Nikodemus Saureh, pengajar Bahasa Sawai. Nikodemus merupakan orang Sawai, suku pribumi Weda, Halmahera Tengah (Halteng). Sore itu (14/7), ia tengah mengajar Bahasa Sawai, salah satu bahasa di Maluku Utara yang terancam punah.
Tiga bulan belakangan, kegiatan belajar-mengajar itu intens dilakukan. Kegiatan tersebut eksis seiring berdirinya Komunitas Peduli Bahasa Sawai (KPBS) yang dipelopori Subhan Somola, seorang warga Were. Subhan yang merasa gelisah dengan makin langkanya penutur Bahasa Sawai, terutama di kalangan anak muda, memutuskan membuat gerakan tersebut. ”Awal membentuk komunitas ini, kami hanya bertiga,” tutur Subhan kepada Malut Post.
Pada awalnya, hanya ada 10 anak yang bersedia mengikuti kegiatan belajar. Enam siswa SD, dan empat siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs). ”Tenaga pengajar yang dilibatkan membantu saat itu adalah beberapa lulusan Akademi Komunitas Negeri Halteng,” kisah Subhan.
Bermodalkan semangat, Subhan memilih memanfaatkan Taman Loiteglas yang terabaikan di kampungnya. Taman ini sedikit berjarak dari perkampungan warga, juga jalan raya. Lokasinya dipandang nyaman dan aman untuk aktivitas belajar outdoor. ”Taman itu sendiri perlu dibenahi dan dibersihkan lebih dulu karena tidak terurus,” kata Subhan yang seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Pemadam Kebakaran Halteng ini. Setelah digunakan oleh KPBS, taman ini kini bisa juga dimanfaatkan untuk tempat olahraga warga.
Tak hanya Bahasa Sawai, KPBS juga mengakomodir belajar gratis Bahasa Inggris dan Jepang. Tiap Kamis dan Minggu sore, ada jadwal belajar Bahasa Jepang. Jumat sore Bahasa Sawai, sementara Bahasa Inggris tiap Sabtu sore.
Beruntung, KPBS memiliki tenaga sukarelawan yang bersedia berbagi ilmu dengan anak-anak. Mereka adalah Agus, guru mata pelajaran Sejarah di SMK Negeri 8 Halteng. Agus yang memiliki pengalaman kerja selama 3 tahun di Jepang sukarela menjadi tutor anak-anak yang ingin belajar Bahasa Jepang. Ada pula Maharani, Penjabat Kepala Desa Fidijaya, dan Marsuni Hi Muhammad, seorang ASN di Dinas Pariwisata Halteng. Keduanya bersama Subhan saling bantu mengajar Bahasa Inggris. Ditambah Nikodemus yang mengajar Bahasa Sawai. ”Saya optimis para tutor sukarela ini akan selalu aktif berbagi ilmunya dengan siapapun yang mau belajar dan bergabung di komunitas ini,” sambung Subhan.
Salah satu kekhawatiran Subhan yang paling Nampak adalah makin jarangnya ia menemui warga yang bercakap-cakap menggunakan Bahasa Sawai. Padahal satu dekade sebelumnya, bahasa daerah ini paling mudah ditemui sebagai bahasa penghubung sehari-hari. Bahasa Sawai sendiri tergolong unik dengan karakteristiknya dimana kata-katanya didominasi huruf konsonan. Hal ini membuat bahasa tersebut tergolong sulit penuturannya, apalagi bagi lidah awam. ”Ini juga yang membuat kami meminta warga asli Sawai sebagai sukarelawan pengajar,” kata Subhan.
Sayangnya, meski upaya yang dilakukan Subhan dan KPBS demi melestarikan salah satu warisan budaya, Pemerintah Kabupaten Halteng tampaknya tak tergerak untuk ikut andil. ”Selama ini Pemda belum merespon kegiatan belajar bahasa yang kami galakkan,” aku Subhan.
Subhan sendiri tak memiliki harapan muluk-muluk bakal dibantu Pemkab. Ia hanya berharap, Bahasa Sawai dapat dimasukkan dalam kurikulum Muatan Lokal di sekolah-sekolah. ”Tujuannya agar Bahasa Sawai tetap terpelihara dan terus dituturkan masyarakat Weda,” harapnya.
Beberapa bulan setelah KPBS memulai gebrakannya, saat ini warga setempat sudah mulai mampu menggunakan Bahasa Sawai, Inggris, dan Jepang meski masih pasif. Jumlah orang yang ikut belajar bersama KPBS pun kian meningkat. "Selain merevitalisasi bahasa daerah, khususnya Bahasa Sawai yang menjadi bahasa pertama di wilayah Weda, saat ini di setiap kegiatan belajar yang kami lakukan selalu  didokumentasikan secara tertulis dan audio visual dengan cara menyusun naskah dialog, cerita dan legenda dalam Bahasa Sawai untuk generasi mendatang," jabar Subhan.
Subhan mengaku, satu-satunya kendala yang kerap mereka rasakan adalah minimnya bahan ajar, alat tulis, dan buku bacaan yang memuat tiga bahasa yang diajarkan. "Kami cukup prihatin, karena selama ini pemerintah tidak pernah menaruh perhatian terhadap pendidikan nonformal di wilayah Kabupaten Halmahera Tengah. Meski begitu kami tetap optimis untuk jalan seadanya, meski tidak mendapat dukungan,” ujarnya mantap.
Dengan segala kekurangan, Subhan dan KPBS sudah sangat bersyukur karena kegiatan Revitalisasi Bahasa Sawai di Kota Weda yang berlangsung beberapa waktu lalu difasilitasi langsung Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam kegiatan tersebut, para peserta didik KPBS mementaskan pertunjukan berbahasa Sawai, mulai dari cerita, dialog, hingga puisi-puisi Sawai. ”Alhamdulillah penampilan mereka mendapat respon positif dan pujian dari Badan Bahasa Kemendikbud. Ini menjadi pemacu kami semua untuk terus melestarikan bahasa,” tandas Subhan.(rid/kai)