Kalau Momen Pas, Bisa Berfoto dengan Background Kereta Api

  • Wednesday, Oct 11 2017
PENGHUBUNG DUA KAMPUNG: Para model beraksi di Jembatan Kaca Ngalam Indonesia kemarin (9/10) PENGHUBUNG DUA KAMPUNG: Para model beraksi di Jembatan Kaca Ngalam Indonesia kemarin (9/10)

Jembatan Kaca Ngalam Indonesia, Daya Tarik Baru Kota Malang

Dari atas jembatan kaca pertama di Indonesia, panorama warna-warni dua kampung destinasi wisata di Malang bisa dinikmati. Bisa menampung beban hingga 250 kilogram.

ARIS SYAIFUL ANWAR, Malang

PANGGUNG tempat mereka beraksi sejatinya tak lazim. Berdiri di atas sungai, setinggi hampir 10 meter. Di antara dua perkampungan padat penduduk di Kota Malang.
Tapi, belasan model itu nyaman saja memamerkan busana yang penuh warna. Dengan sepatu berhak tinggi, berlenggak-lenggok, menatap lurus, sembari terus menebar senyum.
Seolah mengirim pesan betapa aman dan nyamannya jembatan tempat mereka beraksi kemarin (9/10). Meskipun lantainya terbuat dari kaca.
Ya, yang jadi panggung 12 model tersebut adalah Jembatan Kaca Ngalam Indonesia. Itulah jembatan kaca pertama di Indonesia. Menghubungkan Kampung Warna-warni Jodipan di Kelurahan Jodipan dengan Kampung Tridi (3D) di Kelurahan Kesatrian, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.
Sebelum jembatan dengan enam tali baja di sebelah utara tersebut dibangun, wisatawan yang ingin menikmati kedua sisi kampung jujukan wisata di Malang itu harus lumayan berkeringat. Menaiki puluhan anak tangga dan memutar lewat Jembatan Brantas sejauh sekitar 500 meter. ”Saya kira akan semakin banyak wisatawan lokal dan asing yang datang ke Kota Malang. Salah satunya ke jembatan ini,” kata Wali Kota Malang M. Anton setelah meresmikan jembatan tersebut kemarin (9/10) seperti dilansir Jawa Pos Radar Malang.
Anton turut menjajal melintasi jembatan itu bersama pengasuh Pondok Pesantren Az Zainy Tumpang KH Zain Baik dan Wakil Presiden PT Inti Daya Guna Aneka Warna (Indana) Steven A. Sugiharto. Turut mendampingi Dandim 0833/Kota Malang Letkol Inf Nurul Yakin, Wakil Ketua DPRD Kota Malang Zainuddin, dan Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad.
Dengan keberadaan Jembatan Kaca Ngalam Indonesia tersebut, berkunjung ke kawasan itu seolah mendapatkan paket 3 in 1. Dua kampung artistik penuh warna plus jembatan kaca satu-satunya di Indonesia.
Jembatan kaca tersebut mulai dibangun 8 Juli 2017. Tingginya mencapai 9,5 meter. Dengan panjang 20 meter dan lebar 1,25 meter, jembatan itu bisa menahan beban hingga 250 kg. Atau kira-kira sebanyak 50 orang.
Adalah Khairul Ahmad dan Mahatma Aji Pangestu yang mendesain jembatan tersebut. Dua mahasiswa Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu ditunjuk lantaran pengalaman mereka sebagai juara Kontes Jembatan Indonesia dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia pada 2015.
Dilansir Bontang Post (Jawa Pos Group), Khairul dan Aji mulai mendesain jembatan tersebut pada Januari 2017. Langkah awal dimulai dengan meninjau lokasi Jodipan dan Kesatrian untuk mengetahui topografi. ”Kami menawarkan tiga bentuk jembatan. Yang pertama tipe busur atau melengkung, tipe futuristis, dan tipe cable stayed. Kemudian, model cable stayed ini yang disetujui rektor UMM karena ada segi estetikanya,” jelas Khairul.
Sebelumnya mahasiswa UMM juga memainkan peran penting melalui inisiasi pendirian Kampung Warna-warni Jodipan oleh delapan mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM yang tergabung dalam kelompok praktikum Public Relations (PR) Guys Pro. Lahirnya Kampung Warna-warni Jodipan selanjutnya menjadi inspirasi bagi berdirinya Kampung Tridi yang berada di seberang sungai. Sejak diresmikan September 2016, dua kampung itu selalu padat pengunjung.
Untuk pembangunan jembatan, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang bekerja sama dalam bentuk corporate social responsibility (CSR) dengan PT Inti Daya Guna Aneka Warna. ”Pengerjaannya selesai 25 September lalu,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Malang Hadi Santoso.
Hadi menambahkan, pihaknya awalnya ingin membangun jembatan kaca dari anggaran pemerintah. Namun, waktunya terlalu mepet. ”Lalu ada CSR yang sangat membantu. Pemkot berupaya membantu izin ke Kementerian PUPR,” terangnya.
Mengutip Jawapos.com, melintasi jembatan itu sekaligus bisa menikmati pemandangan berwarna dari atap-atap rumah warga dua kampung tersebut. Warna kuning keemasan jembatan seolah melengkapi kemeriahan panorama warna di sekelilingnya.
Bahkan, kalau pas momennya, pengunjung bisa berfoto dengan latar belakang kereta api. Sebab, sekitar 200 meter dari jembatan kaca, ada jembatan yang dilintasi sepur. Kian seru kalau jembatan bergoyang diterpa angin.
Selain itu, lantaran berlantai kaca, semua yang melintas bisa menikmati pemandangan dasar Sungai Brantas dari atas jembatan. Tempat yang sangat mengundang keinginan untuk berswafoto. ”Serasa berada di jembatan kaca di Zhangjiajie ya,” celetuk seorang warga saat berkesempatan menjajal melintasi jembatan.
Jembatan Kaca Zhangjiajie berada di Provinsi Hunan. Dengan panjang 430 meter dan tinggi 300 meter dari tanah, itulah jembatan kaca terpanjang dan tertinggi di dunia. Tiongkok masih punya beberapa lagi jembatan sejenis.
Steven mengaku sangat bangga dengan keterlibatan pihaknya dalam membangun jembatan kaca tersebut. ”Harapan kami, kunjungan wisatawan terus naik dari waktu ke waktu,” ujar Steven sembari tak lupa berterima kasih kepada Rektor UMM Drs Fauzan MPd yang kemarin juga hadir saat peresmian.
Sebelumnya, melalui CSR, pihaknya telah kerap bekerja sama dengan Pemkot Malang. Misalnya dalam pengecatan Kampung Tematik Glintung, Kampung Warna-warni Jodipan, Kampung Tridi, flyover Arjosari, serta yang masih proses pengerjaan adalah Kampung Biru Arema.
Anton pun berharap warga sekitar bisa turut merawat jembatan itu. Sebab, merekalah yang bakal mereguk hasilnya. ”Dengan rampungnya jembatan ini, semoga saja minat wisata di Kota Malang, khususnya Kampung Warna-warni Jodipan dan Kampung Tridi, bakal semakin meningkat. Dengan begitu kan bisa meningkatkan perekonomian warga sekitar,” tuturnya.(jpg/kai)