WIFT, Ajang Deklarasi Destinasi Wisata Mancing Dunia

  • Wednesday, Oct 11 2017
BANGGA: Peserta mancing mania saat mengikuti lomba di Halmahera Timur (Haltim) tahun lalu BANGGA: Peserta mancing mania saat mengikuti lomba di Halmahera Timur (Haltim) tahun lalu

SOFIFI – Kompetisi wisata mancing yang di gelar saat event Widi International Fishing Tournament (WIFT) nanti dipastikan berdampak terhadap ekonomi masyarakat, terutama bagi masyarakat yang berada di sekitar spot-spot mancing yang dipilih oleh angler atau pemancing, yang potensial sebagai buyer atau pembeli. "Mereka juga sangat berpeluang untuk berinvestasi di daerah," ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Malut M. Buyung Radjiloen kemarin (10/10).

Buyung mengatakan, wisata mancing ini merupakan salah satu bentuk wisata yang dikenal cukup mahal biayanya. Pasalnya, angler ini harus menyiapkan kebutuhannya seperti Kapal dan alat mancing, serta kebutuhan lain selama melaut seperti BBM, Es Balok, umpan ikan dan kebutuhan pokok seperti beras, sayur-sayuran, bumbu masakan, gula, kopi, minuman dan rokok yang pasti dibeli di pasar dan toko setempat. Disamping itu wisata mancing ini juga dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat yakni sebagai pemandu wisata juga sebagai Anak Buah Kapal (ABK) para wisatawan. “Lebih dari itu, akan meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke daerah ini,” ujarnya.

Mahalnya wisata mancing ini lanjut Buyung, membuat peminat wisata mancing ini didominasi kalangan menengah atas seperti pemilik perusahaan swasta, pemilik hotel, para bankir,  pengusaha transportasi, suplayer, eksportir dan importer serta pengusaha swasta lainnya yang memiliki modal besar. “Jika dihitung rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk satu trip mancing sebanyak delapan orang, minimal Rp20 juta,” katanya.

Begitu besarnya dampak ekonomi seperti yang digambarkan diatas, maka sangat beralasan, dengan mempertimbangkan potensi kelautan dan perikanan yang tersebar di wilayah Malut menjadi kawasan Lumbung Ikan Nasional. “Sebagai Provinsi Kepulauan dengan jumlah 805 pulau yang memiliki pesona keindahan pesisir pantai, terumbu karang dan hamparan pasir putih yang eksotis, Maluku Utara layak dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata fishing di Indonesia bahkan di dunia,” katanya membanggakan.
Untuk itu, wisata mancing yang memperebutkan Piala Presiden 2017 ini menjadi pintu masuk untuk mendeklarasikan “North Mollucasasa World Fishing Destination”. Keindahan alam Kepulauan Widi yang dijuluki Maldivesnya Indonesia akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pariwisata dan mancing. “Keindahan hamparan pasir putih dan lautnya ini akan sangat memikat para wisatawan yang tidak hanya mencari sensasi mancing tapi juga menikmati keindahan 104 pulau dan hamparan pasir putih yang indah,” jelasnya seraya mengatakan, Pesona Kepulauan Widi juga memberikan jalur migrasi ikan dari laut pacific ke Samudera Hindia. Para angler akan merasakan sensasi mancing diperairan Kepulauan Widi sambil menikmati keindahan alam yang eksotis. Perkembangan wisata mancing di Indonesia saat ini bisa dikatakan belum bangun dari tidurnya, walaupun banyak spot mancing ada di berbagai kawasan di Indonesia. Namun belum ada satupun daerah atau kawasan yang saat ini menjadi destinasi wisata mancing. Dibanding Negara lain yang telah membangun destinasi wisata mincing, seperti di Malaysia dengan Kuala Rompin, Irlandia terkenal dengan Lough Currane, atau Rio Gandre di Chili serta Madeira di Pantai Barat Afrika yang terkenal sebagai destinasi wisata fishing dunia.
Melalui gagasan pelaksanaan lomba mancing bertaraf internasional yang rencananya dibuka Presiden Jokowi dan Ibu Negara ini Pemprov Malut berharap WIFT sebagai ajang besar untuk membangkitkan wisata mancing Indonesia yang masih tidur menjadi potensi untuk pengembangan wisata mancing sebagai wisata baru di Indonesia.
Menurutnya, membangun destinasi wisata laut bukan hal yang mudah menyiapkan sarana prasarana serta kualitas SDM Untuk lebih meningkatkan layanan bagi wisatawan mancing. Beberapa hal perlu menjadi prioritas pemerintah daerah saat ini yaitu, menyiapkan Attraction sebagai produk utama sebuah destinasi. “Atraksi berkaitan dengan what to see dan what to do. Apa yang bisa dilihat dan dilakukan oleh wisatawan didestinasi tersebut. Atraksi untuk wisata mancing berupa ketersediaan unit kapal pancing yang memenuhi standar, potensi spot mancing serta keindahan dan panorama alam yang mempesona. Atraksi untuk wisata fishing di Maluku Utara mempunyai nilai diferensiasi yang tinggi, unik dan berbeda dari daerah atau wilayah lain,” jelasnya.
Lanjut Buyung, membangun Accessibility atau aksesibilitas adalah sarana dan infrastruktur untuk menuju destinasi. Akses transportasi baik darat, laut dan udara merupakan aspek penting untuk mewujudkan sebuah destinasi wisata fishing, apalagi jangkauan ke lokasi spot mancing cukup jauh dan membutuhkan sarana transportasi yang memadai,” tutur Buyung.
Menyediakan amenitas atau segala fasilitas pendukung yang bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan wisatawan mancing selama berada di destinasi. Seperti sarana akomodasi, tempat menginap serta toko atau pasar untuk membeli bahan kebutuhan melaut, restoran atau warung untuk makan dan minum. Kebutuhan lain yang mungkin juga diinginkan dan diperlukan oleh wisatawan, seperti toilet umum, klinik kesehatan, dan sarana ibadah yang sebaiknya juga tersedia disebuah destinasi.
 Dia mengatakan, untuk mewujudkan Maluku Utara sebagai destinasi wisata mancing dunia ke depan, pemerintah daerah akan mengambil langkah-langkah strategis dalam meningkatkan lima komponen utama dari sisi pengadaan wisata fishing, yakni objek wisata fishing, transportasi, pelayanan, promosi, dan informasi, harus secara terpadu diperkuat dan dikembangkan, sehingga lebih atraktif atau minimal sama dengan yang ditawarkan oleh negara-negara lain yang telah mengembangkan wisata fishing ini.
“Dan yang paling utama, pengembangan destinasi wisata fishing ini harus didukung oleh kebijakan Pemerintah Pusat baik politik, ekonomi, keuangan, ketenagakerjaan, infrastruktur, keamanan dan kenyamanan, dan kebijakan pemerintah lainnya yang kondusif,” tutup Buyung.(udy/adv/wat*)