Simposium Tuan Guru, Ungkap Rindu Lewat “Tanah Airku Indonesia”

  • Tuesday, Oct 31 2017
 LAWATAN: Sultan Tidore Husain Sjah (tengah, peci hitam) bersama anak keturunan Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam dalam lawatan ke Cape Town, Afrika Selatan.DOK PRIBADI LAWATAN: Sultan Tidore Husain Sjah (tengah, peci hitam) bersama anak keturunan Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam dalam lawatan ke Cape Town, Afrika Selatan.DOK PRIBADI

Dari Lawatan Sultan Tidore ke Cape Town, Afrika Selatan

Meski lahir dan tumbuh nun jauh di Afrika Selatan, kecintaan anak keturunan Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam terhadap Tidore dan Indonesia tak pernah surut. Tuan Guru merupakan putra Tidore yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional di Afrika Selatan. Hadir dalam simposium mengenai sang ulama, Sultan Tidore Husain Sjah tak kuasa menahan haru menelusuri jejak Tuan Guru.

Fakhruddin Abdullah, Tidore

Para hadirin simposium tentang Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam berdiri serentak memberikan penghormatan. Kala itu, Sabtu (28/10), Auditorium Islamia di Cape Town bergetar oleh senandung Tanah Airku Indonesia. Lagu nasional Indonesia itu bergemuruh, dinyanyikan dengan syahdu oleh anak cucu Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam.
Sultan Tidore Husain Sjah yang hadir dalam simposium tersebut tak kuasa menahan harunya. Ia mengunggah rekaman video nyanyian tersebut di akun Facebook-nya. Disertai video pendek itu, sang Sultan menulis caption “Komitmen mereka pada Tanah Tumpah Darahnya tidak pernah surut dimakan zaman. Oooooh Bangsa dan Negaraku, kapan lelaki hebat ini (Tuan Guru) engkau berikan PENGHARGAAN sebagai PAHLAWAN?”
Imam Abdullah Qadhi Abdussalam merupakan ulama dan pejuang asal Tidore yang diasingkan Pemerintah Belanda ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Di Afrika Selatan, Tuan guru diasingkan di Pulau Robben sejak tahun 1763 dan baru dibebaskan pada 1792.
Meski berada di tanah asing, perjuangan Tuan Guru menyebarkan Islam tak berhenti begitu saja. Ia getol menegakkan nilai-nilai keislaman di negara tersebut hingga akhirnya berhasil membangun masjid pertama di sana. Ulama besar ini wafat pada 1807 dan dimakamkan di pemakaman muslim pertama yang juga dibangunnya di Afrika Selatan.
Sultan Tidore Husan Sjah sendiri bertandang ke Afrika Selatan guna mengikuti simposium tentang kehidupan, warisan dan keterikatan keluarga Tuan Guru. Dalam lawatannya, Sultan Husain sempat menghadiri acara khataman Alquran di kediaman Syekh Ridwan, salah satu anak keturunan Tuan Guru. Acara tersebut dipandu Syekh Ridwan yang juga putra tertua Haji Erfan bin Rakieb bin Imam Abdullah bin Qadhi Abdussalam. Lalu diikuti oleh kurang lebih 70 jamaah yang merupakan anak keturunan dari Tuan Guru Imam Abdullah.
Setelah khataman, dilanjutkan dengan salat berjamaah yang diimami Syekh Luqman, adik kandung Syekh Ridwan. Lantunan ayat suci yang dibacakannya begitu merdu dan syahdu menyentuh hati. Nampak dari wajah kedua kakak beradik ini tergambar sifat tawadhu dan takwa. ”Memandang mereka hati terasa begitu sejuk dan tenteram. Dalam hati kecil saya mengucapkan syukur yang tiada hentinya kepada Allah ajja wajallah yang dengan iradat-Nya mempertemukan saya dengan manusia pilihan. Kalau tak berlebihan boleh saya katakan inilah para kekasih Allah SWT,” ungkap Sultan Husain Sjah dalam akun Facebook-nya.
Sebelum acara makan malam, Sultan Tidore dibuat terkejut oleh Syekh Ridwan. Ridwan mengajaknya, permaisuri Mardiah Fabanyo, Jo Jau Kesultanan Tidore M. Amin Faroek, dan salah satu sepupu Sultan, Anita Gathmir, memasuki sebuah kamar khusus. ”Kenapa saya mengatakan demikian? Ya, karena di kamar inilah terdapat benda-benda dan kitab-kitab serta wasiat milik Imam Abdullah Qadhi Abdussalam yang ditulis tangan ketika beliau dibuang dan diasingkan di Pulau Robben,” ungkap Husain kepada Malut Post.
Ketika melihat dan menyaksikan langsung benda-benda pusaka itu, Sultan mengungkapkan tanpa terasa ada yang basah di kedua pelupuk matanya. Ia merasa amat bangga sekaligus terharu. ”Sekali lagi, inilah peristiwa yang sangat monumental dan mendebarkan dalam hidup saya. Seolah saya sedang berdiri dan berhadapan langsung dengan manusia besar yang dipilih oleh Tuhan untuk membawa misi-Nya nan suci, di suatu tempat yang amat sangat jauh dan misterius,” cetusnya.
Saat itu pula, Sultan Husain tertunduk malu dan merasa sangat kecil serta belum berarti apa-apa bagi agama, nusa dan bangsa. Terutama saat sebuah wasiat pendek dibacakan oleh cucu Tuan Guru yang bernama Muttaqin. "Bagi sesiapa yang membaca saya, empunya wasiat ini, istriku dan anak-anakku semua yang kutinggalkan (kitab tentang Islam, Fiqih dan Tasawuf serta ajaran tauhid) lebih berharga dari perak dan emas. Berlaku semenjak aku hidup sampai hari kiamat nanti dan aku akan berdiri berbicara di hadapan Tuhan-ku, Rabbul Izzati tentang wasiatku ini,” ujar Tuan guru dalam wasiatnya yang dibacakan Muttaqin.
Simposium untuk sang ulama digelar berdasarkan hasil penelitian baru-baru ini tentang kontribusi Tuan Guru di Afrika Selatan. Dalam pertemuan tersebut, Sultan Husain diberi kesempatan memaparkan sejarah perjalanan Kesultanan Tidore. Sementara Jo Jau (Perdana Menteri) Kesultanan Tidore Amin Faruk berkesempatan menyampaikan silsilah Tuan Guru.
Pembicara lainnya yang mewakili keturunan Tuan Guru di Afrika Selatan adalah Syekh Muttaqin Rakiep dan Syekh Luqman Rakiep, serta sejarawan dan archivistis Ebrahim Salie yang menyampaikan paparan hasil penelitian ayah Syekh Rakip, Almarhum Hi Nurul Erefaan Rakip yang pertama kali melakukan rekoneksi dengan keluarga Tuan Guru di Tidore.
Dilansir dari voicefm.co , dalam pengasingan selama 13 tahun itu, Tuan Guru menulis buku antara lain Ma'rifatul Islami wal Imani yang diselesaikannya pada 1781. Buku tersebut berbahasa Melayu tetapi berhuruf Arab. Tuan Guru juga menulis Alquran dengan tangannya sekitar 600 halaman.
Setelah bebas dari pengasingan, Tuan Guru menikah dengan Kaija van de Kaap dan tinggal di Dorp Street, Cape Town. Dari pernikahan tersebut, lahir Abdol Rakief dan Abdol Rauf, yang juga sangat berperan dalam penyebaran Islam di Afrika Selatan.
Di sebuah gudang yang dijadikan tempat tinggal Tuan Guru juga didirikan madrasah yang juga merupakan sekolah muslim pertama di Afrika Selatan. Sekolah ini sangat populer di kalangan budak dan komunitas warga kulit hitam non budak. Sekolah ini juga menjadi tempat lahirnya ulama-ulama Afrika Selatan ketika itu seperti Abdul Bazier, Abdul Barrie, Achmad van Bengalen, dan Imam Hadjie. Murid Tuan Guru ketika itu mencapai 375 orang.
Rasa haru dan bangga rupanya begitu tertanam di benak Sultan Tidore. Masih di Afrika Selatan, ia kembali mengungkapkan dalam kalimat yang puitis dan penuh makna atas kebesaran sang Tuan Guru imam Abdullah Qadhi Abdussalam. “Oooh Tuan Guru, tangan dan jari tak lagi kuasa menulis tentang engkau. Karena kata dan kalimat tak cukup untuk itu. Engkau melebihi apa yang aku bayangkan. Jika ada ucapan yang Tuhan ciptakan melebihi penghormatan dan terima kasih, maka Engkau sangat layak untuk mendapatkannya,” ungkapnya.(far/kai)

kirim Komentar