KOMPAK: Meski berusia lanjut, grup vokal Dialita (Di Atas Lima Puluh Tahun) tetap semangat menyampaikan kisah sejarah 1965 lewat lagu-lagunya. KOMPAK: Meski berusia lanjut, grup vokal Dialita (Di Atas Lima Puluh Tahun) tetap semangat menyampaikan kisah sejarah 1965 lewat lagu-lagunya.

SETELAH 52tahun berselang, ingatan tentang salah satu peristiwa genosida terbesar di Indonesia masih terekam jelas. Tragedi pembantaian pada 1965 tentu masih memberikan kenangan buruk untuk bangsa ini. Di balik itu semua, ada sekelompok perempuan korban tragedi tersebut yang berusaha menciptakan kedamaian melalui grup paduan suara bernama Dialita.

Terbentuk pada 7 Desember 2011, anggota Dialita awalnya tergabung dalam komunitas Ibu Peduli Anak. ”Kegiatan kami awalnya hanya mengumpulkan barang bekas, lalu disortir dan dijual. Hasilnya diberikan kepada orang tua yang sedang sakit,” terang Uchikowati, salah seorang anggota sekaligus juru bicara Dialita. ”Lalu, kebetulan kok selama menyortir ini teman-teman suka bernyanyi. Kami terpikir kenapa tidak dijadikan paduan suara saja,” lanjutnya.

Pada era awal terbentuknya, Dialita hanya membawakan lagu-lagu nasional. ”Kali pertama kami tampil di acara pentas Gramedia. Setelah itu, kami kembali diundang Komnas Perempuan,” seru Uchi. Dialita yang merupakan singkatan dari Di Atas Lima Puluh Tahun tersebut awalnya hanya beranggota sepuluh orang. ”Sekarang sudah 21 anggota,” kata Uchi.

Selama masa Orde Baru (Orba), para anggota Dialita itu bolak-balik mendekam di balik jeruji besi, merasakan pedihnya masa-masa dibuang, dan diasingkan dari sanak keluarga. ”Orba sudah mengubah tatanan masyarakat hingga berkeluarga. Misalnya, pecahnya hubungan satu keluarga karena represi Orba,” jelas Uchi. ”Kami berharap pemerintah bisa merehabilitasi nama, mengakui bahwa peristiwa 1965 itu benar-benar terjadi,” tambahnya.

Pada 2015, Dialita diundang dalam perhelatan Jogja Biennale. Di bawah pohon beringin rindang, mereka bersatu padu, melantunkan suara-suara emas membawakan lagu-lagu 1965. ”Kami menyanyikan lagu seperti Viva Ganefo, Pagi untuk India,serta Bangun Pemuda Pemudi,” ucap Uchi, lalu tertawa. ”Kami pakai kebaya putih dan batik. Penontonya anak muda, tapi suka sekali dengan lagu kami,” kenangnya.

Seminggu setelah acara tersebut, Dialita bertemu beberapa musisi. ”Partitur kami dinyanyikan Frau dan Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca serta Mas Darto dari Sisir Tanah,” katanya sumringah.

Setahun berselang, para perempuan yang semangatnya tak turut termakan usia itu melesatkan debut album perdana mereka yang bertajuk Dunia Milik Kita. Tepat di Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 2016, album tersebut dilahirkan dalam format digital via Yes No Wave Recordsserta CD oleh Cakrawala Records.

Selain berisi lagu milik Dialita, album pertama tersebut berisi liner notes yang berisi kisah-kisah di balik lagu mereka, biografi penulis lagu, hingga resep pangan liar yang dibuat Bakudapan Food Study Group. ”Lucunya, para ibu mengeluh kesusahan saat prosesi rekaman. Kami harus belajar selama sebulan. Tapi, kembali saya tekankan bahwa susah tidak berarti tidak bisa,” tutur Uchi.

Perjuangan mereka selama ini nggak sia-sia. Terbukti pada 2016, album-album Dialita nangkring sebagai album terbaik di beberapa kanal kuratorial musik. ”Kami teguh membawakan kisah sejarah untuk perdamaian. Ini juga membuktikan bahwa perdamaian tidak bisa diciptakan dengan cara berteriak-teriak,” jelas Uchi.

”Lagu ini bisa dimaknai sebagai sebuah teks sejarah karena didengar banyak orang. Akhrinya, lagu ini bisa memunculkan kesan yang berbeda-beda dari banyak orang,” ungkapnya. (raf/rno/c25/als)