’’Ive burned my bridges. Theres no turning back. Theres only going forward with you.’’

Aldebaran ’’Ale’’ Risjad dalam novel Critical Eleven karya Ika Natassa.

 

ADA sebelas menit paling kritis dalam penerbangan, yakni tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Teori itu sama dengan kisah cinta Ale dan Anya pada novel Critical Eleven karangan Ika Natassa. Novel yang terjual habis setelah sebelas menit diluncurkan tersebut ditayangkan dalam film berjudul sama pada 10 Mei mendatang. Well, bakal sesukses apa film yang turut menghadirkan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti itu? Intip dulu yuk fakta-fakta di balik proses produksinya! (raf/c14/als)

 

Lokasi Syuting Lebih Nyata

Novel-novel Ika Natassa selalu identik dengan setting tempat yang romantis, termasuk Critical Eleven. Nah, kalau di buku setting tempat yang dipakai lebih banyak berlokasi di Jakarta, versi filmnya bakal sedikit berbeda. ’’Di film, kami akan meng-explore New York untuk menambahkan hal baru. Meski berbeda tempat, emosi dari buku tetap terasa,’’ ujar Robert Ronny, sang sutradara.

Bukan hanya itu, tim produksi juga melakukan syuting di rig untuk memvisualisasikan pekerjaan Ale di pertambangan. ’’Selama dua bulan, kami mencari rig yang tidak beroperasi. Lalu, salah seorang rekan merekomendasikan rig di daerah lepas pantai Lamongan, Jawa Timur,’’ ujar Robert. Untuk melakukan adegan di rig, tim produksi harus menyewa aktor figuran yang mengerti seluk-beluk rig.

 

Gelar Rapat di Bandara

Nggak cuma menggunakan bandara sebagai salah satu setting, tim produksi juga menggunakan tempat tersebut untuk menggodok ide. ’’Beberapa scene akan menampilkan pertemuan Ale dengan Anya di bandara. Bahkan, saya bersama tim produksi dan Ika pernah melakukan rapat di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta,’’ ungkap Robert.

Yap, rapat dadakan itu dihadiri Robert dan Ika Natassa selaku penulis novel. Karena kesibukan masing-masing, mereka pun memutuskan untuk rapat di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta yang saat itu baru dibuka. ’’Namun, lama-kelamaan kami memindahkan setting bandara ke terminal 2 internasional agar kehadiran Ale dan Anya terasa makin nyata,’’ papar Ronny.

 

Ekspansi Karakter Memperkaya Cerita

Tim produksi emang nggak kehabisan ide untuk mengemas film ini secara sempurna. Salah satunya lewat ekspansi beberapa karakter yang nggak muncul di buku aslinya. Misalnya, tokoh Donny yang diperankan Hamish Daud. Pada film yang bakal ditayangkan, Donny diceritakan sebagai sahabat Anya yang diam-diam naksir temannya tersebut. ’’Konflik akan makin rumit dengan adanya karakter baru, jadi nggak hanya berputar pada hubungan antara Anya dan Ale,’’ jelas Robert.

Sementara itu, karakter utama Ale dan Anya bakal diperankan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. ’’Sosok Ale dan Anya pun makin terbangun dengan sesi pendalaman karakter yang mereka ikuti,’’ ujar Robert. Film itu sekaligus menjadi ajang reuni Reza dan Adinia setelah film Jakarta Maghrib (2011) dan Kapan Kawin? (2015).

 

Poster Bocor Akibat Ulah Hacker

Beberapa bulan lalu beredar poster yang menunjukkan Ale dan Anya berada di samping jembatan dan saling berciuman. Nggak butuh waktu lama, poster itu langsung mengejutkan publik dan menerima beberapa komentar negatif. Nah, ternyata bocornya poster tersebut merupakan ulah iseng dari hacker. ’’Padahal, poster itu bukan poster final, hanya satu di antara belasan opsi lainnya,’’ jelas Robert.

Meski posternya sempat kontroversial, Robert berharap masyarakat senang dengan film yang dibuatnya. Poster resmi yang dikeluarkan pun diubah menjadi adegan Ale yang memeluk Anya di samping jembatan. ’’Semoga bisa memenuhi ekspektasi pembaca maupun yang belum membaca bukunya,’’ tutur Robert.