DULU teknologi mesin arcade jauh mengungguli mesin home system seperti Nintendo Famicom atau Sega Mega Drive. Suatu game bisa bertahun-tahun hadir di arcade, baru kemudian dibuatkan versi rumahan. Kualitasnya hanya bisa ’’berusaha mendekati’’ standar arcade, khususnya performa visual ataupun panjang permainan.

Pada era PlayStation2, mesin home system berhasil mengejar ketertinggalan. Produsen bisa membuat game yang dirilis sekaligus untuk arcade dan rumahan tanpa beda kualitas. Akibatnya, daya tarik arcade –yang butuh pembayaran setiap bermain– jadi berkurang. Dalam perkembangan berikutnya, tipe game yang semula biasa muncul di arcade hanya dibuat untuk mesin home system. Puncaknya adalah Street Fighter V, andalan Capcom tahun lalu, yang versi arcade-nya tidak dibuat.

Sementara itu, Namco Bandai adalah perusahaan yang sudah sangat lama berkecimpung dalam bisnis arcade. Merekalah yang melahirkan Pac-Man yang legendaris. Melihat Capcom merajai arcade dengan serial Street Fighter yang bergrafis 2D, Namco kemudian menandinginya dengan serial Tekken yang bergrafis 3D. Kini Capcom mengabaikan arcade, sedangkan Namco –yang sudah berubah menjadi Namco Bandai– berusaha menyelamatkannya.

Tekken 7 dirilis dua tahun silam di arcade. Meski game tersebut menggunakan Unreal Engine 4 yang canggih, sebenarnya Namco Bandai tidak terlalu sulit merilis versi rumahannya. Namun, mereka sengaja tidak melakukannya. Keputusan itu ditopang fakta bahwa tidak ada kompetitor bagi Tekken 7 dalam genre 3D fighting. Penggemar genre tersebut mau tak mau bermain di arcade.

Tahun lalu Namco Bandai menghadirkan versi upgrade-nya, Tekken 7: Fated Retribution, masih untuk arcade. Game itu tetap laris. Akhirnya, setelah penghasilan dari arcade cukup memadai, Tekken 7 juga dibuat untuk mesin PlayStation4 dan Xbox One.

Bagi yang domisilinya jauh dari arcade yang menyediakan Tekken 7, inilah saat untuk menikmatinya. Keasyikan pertarungan khas serial Tekken tetap tersaji dengan grafis yang diperbarui. Puluhan karakter familier terpajang yang sebagian diberi opsi kostum baru. Jumlah karakter barunya lumayan banyak.

Di antara para karakter baru, terdapat Kazumi Mishima. Nama dan sosoknya sudah muncul cukup lama, tetapi baru kali ini dia tampil sebagai petarung. Dia adalah istri Heihachi Mishima, yakni ayah Kazuya, sekaligus nenek Jin Kazama. Kehadirannya melengkapi rangkaian saga tentang keluarga pemilik Mishima Zaibatsu, yang menjadi sentral setiap seri Tekken.

Salah satu karakter baru lainnya adalah Josie Rizal. Dia merupakan gadis petarung dari Filipina meski teknik bela dirinya tidak terlalu otentik. Dialah karakter kedua selain Talim (dari serial Soul Calibur) yang diadaptasi Namco Bandai dari negara tersebut. Hal itu mengingatkan kita bahwa perusahaan game kelas dunia belum juga melirik gaya tarung Nusantara untuk dihadirkan dalam fighting game. (c14/ray)

 

Misteri Vampir dari Tekken Revolution

SEBELUM merilis Tekken 7, Namco Bandai bereksperimen dengan medium game yang lain. Mereka membuat Tekken Revolution yang bisa di-download secara gratis untuk dimainkan secara gratis pula di mesin PlayStation3. Meski genrenya tetap fighting, game itu lebih mirip RPG online. Tidak bisa dimainkan tanpa koneksi internet dan tersedia fasilitas mengembangkan kemampuan tarung.

Konsep Tekken Revolution serupa dengan Tekken Tag Tournament, yaitu mempertemukan para karakter seri-seri terdahulu tanpa cerita utama yang spesifik. Para karakter dirilis secara bertahap. Jika pemain tidak punya waktu untuk sering-sering bermain, peningkatan kemampuan bisa dilakukan secara berbayar.

Salah satu aspek paling menarik adalah satu karakter baru bernama Eliza. Kemunculan Eliza merupakan hasil angket Namco Bandai kepada para penggemar. Kebanyakan memilih gadis vampir tersebut. Fisiknya mengingatkan kepada Morrigan, karakter dari serial Vampire (Darkstalkers) milik Capcom. Dia juga punya serangan proyektil yang serupa dengan succubus tersebut.

Setelah berjalan beberapa tahun, Namco Bandai menghentikan operasi Tekken Revolution. Tetapi, Eliza dimunculkan dalam Tekken 7. Hal itu memunculkan spekulasi tentang kaitan Eliza dengan Kazumi Mishima, yang seharusnya meninggal puluhan tahun silam. (c14/ray)

 

Prospek Kolaborasi dengan Street Fighter

PARA penggemar Street Fighter tentu mengenal Gouki (Amerika: Akuma). Karakter itu sealiran dengan Ryu, protagonis serial tersebut, tetapi dengan versi gelap yang lebih tangguh. Secara mengejutkan, dia muncul dalam Tekken 7 sebagai karakter tamu.

Dia diceritakan berutang budi kepada Kazumi Mishima. Kita akan menyaksikan kekuatan gelap Gouki beradu melawan Heihachi dan Kazuya Mishima, yang juga dirasuki kegelapan. Jurus Gou Hadouken membuatnya makin mengerikan, terutama karena serangan proyektil sangat langka dalam serial Tekken.

Namun, yang membuat kehadiran Gouki makin menarik adalah mengaitkannya dengan proyek Tekken x Street Fighter. Bertahun-tahun lalu, Capcom dan Namco Bandai sepakat berkolaborasi mempertemukan ikon dua serial fighting game andalan mereka.

Capcom melangkah duluan lewat Street Fighter x Tekken. Sistem pertarungannya adalah 2D seperti Street Fighter. Game itu sebenarnya bagus. Tetapi, para penggemar mengkritik langkah Capcom menarik bayaran ekstra jika ingin membuka akses sejumlah karakter. Padahal, data para karakter tersebut sedari awal ada dalam disk, bukan dikerjakan belakangan.

Seharusnya Namco Bandai menyusul dengan Tekken x Street Fighter, yang sistem pertarungannya 3D. Tanpa alasan jelas, proyek itu terkatung