PANTANG MENYERAH: Klub kabuki yang dibentuk Kurusu Kurogo sukses memicu rasa ketertarikan pelajar pada kabuki. PANTANG MENYERAH: Klub kabuki yang dibentuk Kurusu Kurogo sukses memicu rasa ketertarikan pelajar pada kabuki.

GENERASI muda sekarang lebih bangga jika hafal tarian Beyonce bila dibandingkan dengan tari remo. Mereka lebih hobi nonton film di bioskop daripada menyaksikan pentas ludruk, ketoprak, atau wayang. Jika dibiarkan begitu, kelestarian kesenian dan kebudayaan lokal bakal punah.

Jepang punya cara sendiri agar anak mudanya selalu ingat pada budaya asli mereka. Misalnya, lewat novel, anime, dan manga. Novelis Eda Yuuri berusaha melakukannya lewat Kabukibu! (Kabuki Club).

Light novel terbitan Kadokawa Bunko itu menggambarkan keresahan Eda-sensei terhadap masa depan seni kabuki. Dalam serial yang sudah diterbitkan enam volume itu, Eda-sensei mencoba mengingatkan anak muda betapa serunya kesenian yang berusia hampir lima abad itu.

Cerita disampaikan lewat sudut pandang Kurusu Kurogo yang sejak kecil ’’diracuni’’ sang kakek dengan kabuki. Kisah yang menarik dan akting prima para aktornya membuat Kuro, sapaan akrab Kurogo, terobsesi pada kabuki.

Passion Kuro terhadap kesenian tradisional yang seluruh pemerannya cowok itu semakin kuat saat SMA. Bersama sahabat karibnya, Murase Tonbo, Kuro merintis klub kabuki. Usaha duo kontras tersebut dipandang sebelah mata. Tapi, tekad Kuro sama sekali nggak terkikis.

Dibantu Tonbo, Kuro bergerilya mencari anggota klub. Ebihara Jin, cucu aktor kabuki terkenal, dirayunya agar mau bergabung. Jin yang aktor profesional menolak karena merasa klub kabuki sekolah bukan levelnya.

Kengototan Kuro akhirnya menunjukkan hasil. Putra novelis terkenal itu sukses mengumpulkan anggota. Klub yang diidamkan sudah terbentuk. Bujet juga sudah cair. PR selanjutnya adalah mementaskan kabuki.

Untuk level anak SMA, menampilkan kabuki bukanlah perkara mudah. Apalagi, yang paham soal kabuki hanya Kuro dan Tonbo. Sifat masing-masing anggota klub yang berbeda plus problem pribadi mereka menciptakan riak dalam tim.

Segala cara dilakukan Kuro demi kelanggengan klub kabuki. Nonton bareng alias nobar kabuki dan rajin mengadakan forum diskusi pun dilakoni anggota klub demi menghayati peran.

Masukan dari penonton setelah pentas pertama pun dijadikan Kuro sebagai bekal naik panggung selanjutnya. Penonton yang senior bisa memahami dialog, tapi mereka yang masih berusia belasan tahun kesulitan menangkap maksud cerita.

Untuk mengatasi kendala tersebut, Kuro dkk memodifikasi skenario supaya pertunjukan mereka cocok dengan selera dan pengetahuan pelajar yang buta kabuki. Lakon Sannin Kichisa tentang petualangan tiga pencuri dibawakan dengan sentuhan modern.

Dialog disederhanakan dengan bahasa kekinian. Kostumnya juga lebih kasual. Inovasi itu sempat mendapatkan sentimen negatif dari fans fanatik kabuki yang rata-rata sudah lanjut usia. Tapi, Kuro dkk membungkam mereka dengan lakon asli Sannin Kichisa sesuai pakem tradisional yang ditampilkan setelah babak modern usai.

Seni tradisional rasa modern yang ditampilkan Kuro dkk mendapatkan aplaus luar biasa. Bahkan, Shiroganeya, kakek Jin, menunjukkan apresiasi terhadap kreativitas klub kabuki. Penonton yang rata-rata pelajar juga pulang dengan hati senang. Misi Kuro untuk membangkitkan minat anak muda terhadap seni kabuki sukses!

Tentu saja, kesuksesan itu nggak membuat anggota klub kabuki cepat menepuk dada. Perjalanan mereka untuk menyebarluaskan daya tarik kabuki masih panjang. Kisah apa lagi yang akan ditampilkan Kuro dkk? Berhasilkah Kuro meyakinkan Jin untuk menjadi anggota klub kabuki? (pew/c22/ran)