BELAJAR: Kegiatan Malloberen yang diadakan Malamuseum di Malloboro, Jogjakarta.DOK. MALAMUSEUM BELAJAR: Kegiatan Malloberen yang diadakan Malamuseum di Malloboro, Jogjakarta.DOK. MALAMUSEUM

’’JAS merah,’’ kata Ir Soekarno pada salah satu pidatonya. Yap, jas merah merupakan akronim jangan sekali-kali melupakan sejarah. Nah, siapa yang setuju bahwa sejarah adalah cerita yang membentuk masa kini dan masa depan? Bukan cuma di sekolah, ternyata sejarah juga bisa dipelajari dengan cara menyenangkan. Misalnya, lewat komunitas-komunitas pencinta sejarah berikut. Apa aja sih kegiatannya? (raf/ffi/c14/als)

 

Wisata Malam Bersama Malamuseum

Prihatin atas eksistensi museum yang makin berdebu, Erwin Djunaedi dan beberapa temannya mendirikan komunitas bertajuk Night at the Museum pada 2013. Komunitas yang awalnya diikutkan dalam program kreativitas mahasiswa (PKM) milik Kemenristekdikti itu bertujuan mengenalkan museum kepada masyarakat. ’’Kami ingin mengubah paradigma masyarakat yang menganggap museum sebagai tempat yang menyeramkan dan membosankan,’’ ujar Erwin.

Tujuan itu pun dikemas dalam sebuah paket perjalanan malam menjelajahi museum-museum di Jogjakarta. Selain jalan-jalan malam hari, ada beberapa game seru di akhir perjalanan. ’’Kami mengemas games ini sebagai review keseluruhan museum. Harapannya, para peserta benar-benar memahami sejarah dan budaya dalam museum,’’ jelas Erwin.

Setahun berjalan, komunitas tersebut mengganti nama menjadi Malamuseum dan membuat beberapa program baru. Ada program #KelasHeritage dengan kegiatan mengunjungi bangunan cagar budaya. Bahkan, ada program Kids in Museum yang mengajak anak-anak usia 6–12 tahun mengenal museum.

Tahun ini Malamuseum membikin program baru bertajuk Malioberen. Selain jalan-jalan di sepanjang jalanan Malioboro, ada penjelasan sejarah dari anggota Malamuseum. ’’Kami ingin masyarakat nggak amnesia sejarah dan melihat semua dari sisi modern aja,’’ papar Erwin.

 

Berani Bercerita Melalui Ingat65

Luka masa lalu dan rasa penasaran atas tragedi 65 mengilhami Prodita Sabarini untuk mendirikan Ingat65. Komunitas itu dibentuk sebagai platform bagi generasi yang lahir pada masa dan pasca-Orde Baru untuk berbagi cerita tentang tragedi pada masa tersebut. ’’Harapannya, bisa jadi rujukan siapa pun yang ingin tahu perspektif generasi muda dalam isu ini,’’ kata Prodita.

Meski nggak merasakan dampak langsung dari tragedi 65, Prodita tetap menjadi korban. ’’Generasi yang lahir pada masa setelah Orde Baru adalah orang-orang yang nggak mendapatkan cerita sejarah sebenarnya. Beberapa pihak masih menghalang-halangi kami untuk memperoleh informasi. Karena itulah, kami termasuk korban tragedi 65,’’ jelas Prodita.

Pada 2016, Ingat65 berupaya mendorong anak muda selalu kritis dan menelusuri sejarah. Hal itu dilakukan melalui esai yang dikirimkan ke e-mail dan disajikan via website. Setiap minggu, Ingat65 juga menerbitkan pamflet untuk mempertajam pengetahuan mengenai dampak kejadian masa lalu yang memengaruhi masa kini.

’’Ingat65 ada sebagai penghubung antar suara anak muda yang memiliki pikiran dan perspektif sendiri tentang isu ini,’’ terang Prodita. ’’Kami berharap mereka terus terlibat dalam diskusi penting. Sebab, mau nggak mau, toh mereka juga yang bakal menciptakan perubahan,’’ lanjutnya.

 

Refleksi Sejarah ala Komunitas Historia Indonesia

Berdiri sejak 22 Maret 2003, Komunitas Historia Indonesia (KHI) punya puluhan ribu anggota yang tersebar di Indonesia dan Amerika. KHI berfokus pada pengemasan sejarah yang unik agar lebih digemari masyarakat, terutama generasi muda. ’’KHI hadir dengan konsep experiencing, yaitu rekreasi ,’’ ujar Asep Kambali, pendiri KHI.

Menggabungkan bidang pariwisata dengan pendidikan, Asep berharap makin banyak anak muda yang mencintai dan melestarikan sejarah karena mengetahui peninggalannya secara langsung. ’’Kami mengajak masyarakat bertamasya ke tempat bersejarah sekaligus memberikan edukasi,’’ kata Asep.

Menurut dia, hal itu dilakukan agar masyarakat mengalami dan mendalami sejarah secara langsung. ’’Harapannya, cerita itu terekam di memori dan menumbuhkan rasa nasionalisme terhadap negara,’’ tuturnya.

Dengan metode rekreasi, edukasi, dan hiburan, KHI juga punya sederet upcoming event. Sebut aja event Heritage Trails: Jejak Arab di Batavia yang mengajak peserta mengeksplorasi jejak peninggalan orang-orang Arab di Jakarta. Bukan cuma itu, KHI juga tengah menyiapkan event besar. ’’Saat ini KHI menggodok acara semacam conference yang kami sebut sebagai Global Youth History Camp. Namun, sejauh ini kami masih merencanakannya