RUANG KELAS: Usaha Keraton Jogjakarta melestarikan budaya dan bahasa daerah di Pamul Macapat ini makin jarang diminati oleh generasi muda.AKBAR/ZETIZEN TEAM RUANG KELAS: Usaha Keraton Jogjakarta melestarikan budaya dan bahasa daerah di Pamul Macapat ini makin jarang diminati oleh generasi muda.AKBAR/ZETIZEN TEAM

BAHASA jadi alat utama untuk berkomunikasi antarmanusia.Indonesia menduduki peringkat kedua dengan jumlah bahasa terbanyak di dunia. FYI,berdasar data Kemendikbud,Indonesia punya 646 bahasa daerah. Sayangnya, angka itu terus menurun karena makin sedikitnya penutur bahasa daerah.

Ada sekitar 52 bahasa yang terancam punah. Bahkan, 12 bahasa di antaranya udah dinyatakan punah oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Bahasa yang terancam punah tersebut kebanyakan berasal dari luar Pulau Jawa seperti bahasa Burumakok dari Papua, bahasa Mandar dari Sulawesi Barat, dan bahasa Melayu Bacan dari Maluku.

Ada beberapa faktor yang memengaruhi hilangnya bahasa daerah. Salah satunya, urbanisasi dan perkawinan antaretnis. Sebab, banyaknya perkawinan berbeda etnis yang memiliki bahasa daerah yang berbeda pula membuat kedua pihak akhirnya jarang menggunakan bahasa dari daerah masing-masing.

Misalnya, cerita Nurul Aini, mahasiswa Universitas Brawijaya Malang, berikut. Papaku asli Makassar dan Mama dari Jawa. Dirumah, kami sekeluarga lebih sering pakai bahasa Indonesia. Lebih nyambung. Lagipula, Papa nggak pernah kok ngajarin aku bahasa Makassar, hehehe,” ujarnya.

Nah, itulahalasan bahasa daerah nggak diteruskan kepada anak cucunya. Di sisi lain, urbanisasi yang dipicu kemiskinan punya andil dalam hilangnya bahasa daerah. Orang-orang desa yang berpindah ke kota mulai melupakan bahasa daerahnya dan lebih banyak menggunakan bahasa yang umum digunakan di kota tujuannya.

Belum lagi, banyak generasi muda zaman sekarang yang justru lebih suka menggunakan bahasa asing atau kekinian. Padahal, bahasa daerah itu penting untuk mencerminkan identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kaya budaya dan bahasa.

Beda dengan Nurul, Fajar Mugni, mahasiswa Universitas Airlangga, yang berdarah Bugis masih fasih berbahasa Bugis. Cowok satu itu justru sangat bangga bisa berbahasa daerah.Bahasa Bugis secara nggak langsung menunjukkan identitasku, asalku dari mana, dan jadi kebanggaanku,ungkap Fajar.

Menurut Retno Asih Wulandari,dosen Sastra Indonesia Universitas Airlangga, ada beberapa upaya untuk melestarikan bahasa daerah. Generasi muda bisa memanfaatkan media sosial yang mereka punya dan membuat posting-an menarik dalam bahasa daerah. Atau membuat aplikasi seperti permainan dan bisa juga GPS dalam bahasa daerah. 

Pemerintah udah berupaya melestarikan bahasa daerah. Misalnya, yang dilakukan Kemendikbud dengan mengonservasi dan merevitalisasi bahasa Hitu di Maluku dan bahasa Tohpati di Papua. Bukan cuma Kemendikbud, WaliKota Bandung Ridwan Kamil juga mewajibkan PNS di lingkungan kerjanya berbahasa Sunda sehari dalam seminggu loh.

Retno Asih berharap pemerintah mempertahankan kurikulum bahasa daerah di sekolah-sekolah, Pengajaran bahasa daerah seharusnya dikemas lebih modern dan variatif biar siswa lebih tertarik dan tidak jenuh. Misalnya, memberikan tugas teks ludruk dan mempraktikkannya,” tutur Retno. Nah, jangan sampai kita jadi generasi yang melupakan bahasa daerah ya. Yuk, mulai sekarang kenali dan lestarikan bahasa daerahmu! (rzk/c25/zet)