GHOFUUR EKA/JAWA POS GHOFUUR EKA/JAWA POS

Indonesia itu kaya. Nggak hanya sumber daya alam, warisan budayanya pun melimpah. Salah satu asetnya adalah kain khas nusantara yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Dengan mengangkat kebudayaan dalam negeri, desainer berikut mengangkat fashion nusantara jadi pilihan identitas karya mereka. Kenalan yuk! (may/zet)

Elizabeth Njo May Fen - Ketique

“Perkembangan fashion sangat cepat, kalau fashion lokal yang sejak dulu ada nggak dijaga, akhirnya malah terkubur menjadi prasasti.”

                Bertujuan mengangkat produk lokal agar jadi panutan bagi generasi muda sekaligus menjaga warisan budaya yang ada, Elizabeth Njo May Fen mulai giat menekuni fashion etnik sejak 2007. Sebagai bukti keseriusannya, Elizabeth menggandeng para pengrajin kain lokal dan membuat inovasi karya agar koleksinya bisa bersaingdengan brand luar negeri,”Kalau ingin memajukan fashion di negara kita sendiri, ya harus angkat nilai lokal yang emang punya kita. Nggak cuma dieksplorasi aja, tapi juga gimana caranya biar bisa mendunia,” jelas founder sekolah fashion, Pison Art & Fashion Foundation (PAFF) ini.

                Perjuangan Elizabeth nggak sia-sia, tahun lalu ia berhasil membawa batik Madura ke perhelatan Indonesian Weekend di London yang diakurasi oleh Indonesian Fashion Chamber (IFC). Nggak cuma itu, perempuan yang akrab dipanggil Afen ini juga telah mengekspor karyanya hingga ke Kuwait dan Malaysia.

                Tapi, tak ada kesuksesan tanpa perjuangan. Afen juga sempat menemui jalan berliku. ”Nggak semua orang suka barang antik, apalagi kain etnik kan kesannya ramai. Jadi, kita harus mengubahnya jadi lebih berkelas dengan memadupadankan motif biar punya nilai jual,” tuturnya. Oleh karena itu, Afen mendesain model karyanya jadi lebih edgy namun tetap konsisten menyelipkan sentuhan etnik khas Indonesia.

                Saat ini Afen juga bermain dengan sarung dan batik melalui @buatantanganindonesia, “Saya ingin menghargai karya pengrajin yang susah payah membuat batik. Karena prosesnya sendiri kan panjang dan rumit. Jadi aku bikin konsep baju dengan teknik lipat-lipat tanpa potong kain. Kalau jahitannya dilepas bentuk kain akan kembali utuh tanpa ada yang terbuang,” pungkas Afen.

 

Chitra Subyakto – Sejauh Mata Memandang

Fashion is freedom, nggak ada aturannya bagi siapapun. Apalagi kalau masih muda, siapapun bebas bereksperimen.”

                Jiwa fashion memang sudah mengalir dalam diri Chitra Subyakto sejak lama. Walaupun nggak bersentuhan secara langsung, tapi Chitra telah berkenalan dengannya melalui berbagai cara. Yap, mulai dari menjadi fashion editor untuk sebuah majalah, lalu menjadi fashion stylist pada beberapa sinema, hingga bekerja pada sebuah retailer selama 6 tahun. Berkat prosesitulah, Chitra akhirnya pede membuka jalur industri fashionnya sendiri.

                Melalui @sejauh_mata_memandang, Chitra berusaha menonjolkan nilai kain khas Indonesia yang sudah turun temurun layaknya tradisi dengan konsep handmade. Di saat mayoritas desainer mengikuti selera pasar, maka Chitra tetap konsisten, ”Sejauh ini emang nggak ngikutin tren karena kecintaan kami pada kain Indonesia. Menurut saya anak muda itu bukan nggak tertarik pakai, tapi jarang menemukan model yang pas sama lifestyle mereka. Makanya kami nggak mau disebut etnik karena identik dengan sesuatu yang old, sedangkan di era global ini inginnya tampil kekinian. Jadi kami sebutnya fashion Indonesia.” tuturnya.

                Memilih handmade sebagai basic karyanya, perempuan yang pernah menjadi fashion stylist film Ada Apa Dengan Cinta 2 ini tetap menemui beberapa kendala yang ia anggap sebagai proses yang menyenangkan, “Kami harus berdamai dengan cuaca Indonesia yang akhirnya membuat penyerapan warna pada kain jadi beda. Tapi itu justru itulah yang bikin spesial dan unik,” lanjut Chitra.

                Berbekal keunikan serta motif yang nggak pasaran, Sejauh Mata Memandang pun berhasil mewakili Badan Ekonomi dan Kreatif pada pagelaran Salone del Mobile 2017 di Milan, Italia. Ia pun didapuk menghadiri pameran retailer di Paris pada September mendatang. Selain itu, produknya juga diekspor ke salah satu store di London.

                Nggak berhenti disitu, 17 Agustus ini Chitra akan melaunching koleksi terbarunya di Senayan City Jakarta melalui perhelatan Semanggi Kita Semangat Indonesia. Fyi, karya ini dikerjakan oleh ibu-ibu Rusun Margonda yang pernah mendapat pelatihan membatik dari BEKRAF selama satu tahun.