NASIB film live-action yang diadaptasi dari serial manga, anime, atau game populer itu hanya ada dua. Kalau sesuai atau malah melebihi ekspektasi dipuji setinggi langit, kalau gagal memenuhi harapan ya harus siap di-bully dengan statement-statement nyelekit.

Tim produksi Tokyo Ghoul tampaknya banyak belajar dari pengalaman film live-action Shingeki no Kyojin yang panen hujatan. Untuk mengantisipasi kritik fans hardcore manga Tokyo Ghoul, eksperimen modifikasi cerita diminimalkan.

Hasilnya nggak jelek-jelek amat. Ketika debut di bioskop-bioskop Jepang pada 29 Juli lalu, Tokyo Ghoul menduduki peringkat kelima di box office Jepang pada pekan pertama pemutarannya. Dari 166 ribu lembar tiket yang terjual, film produksi Geek Sight itu mendulang 232 juta yen (sekitar Rp 27,6 miliar).

Hingga awal pekan ini, Tokyo Ghoul sudah mencatat pendapatan kotor 554,4 juta yen (Rp 66 miliar) di antara total target 1 miliar yen (Rp 119 miliar). Angka itu hanya dari penonton domestik, belum termasuk market internasional, termasuk Indonesia, yang baru kebagian jatah tayang bulan ini.

Jika dibandingkan dengan film live-action Shingeki no Kyojin, Tokyo Ghoul relatif sepi kritik. Keputusan sutradara Hagiwara Kentarou untuk setia pada alur tiga volume pertama manga karya Ishida Sui tersebut merupakan salah satu faktor penyelamat.

Tokyo Ghoul berfokus pada perubahan drastis dalam hidup Kaneki Ken (diperankan Kubota Masataka), dari manusia biasa menjadi ghoul alias makhluk pemakan manusia, setelah mendapatkan donor organ dari Kamishiro Rize (Aoi Yuu) yang berusaha menyerangnya.

Sejak menjadi ghoul, sama dengan anggota Anteiku lainnya seperti Kirishima Touka (Shimizu Fumika), Ken jadi target perburuan Commission of Counter Ghoul (CCG). Dia harus main kucing-kucingan dengan anggota CCG, Mado Kureo (Oizumi Yo) dan Amon Koutarou (Suzuki Nobuyuki), untuk bertahan hidup.

Agar orisinalitas taste ala manga tetap terjaga, Hagiwara memilih untuk nggak menonton versi animenya. ’’Aku hanya membaca manganya. Itu pun setelah aku ditunjuk untuk menangani proyek ini,’’ ucapnya.

Sebagaimana dikutip dari Anime News Network, Hagiwara menyatakan bahwa dirinya nggak bermaksud menjadikan Tokyo Ghoul sebagai film action, melainkan perpaduan aksi dan drama. ’’Kami nggak punya bujet (sekelas film) Hollywood. Jadi, dengan style pembuatan film Jepang, aku harus kreatif soal apa yang bisa kutunjukkan di layar,’’ katanya.

Salah satu tantangan berat bagi Hagiwara adalah memvisualisasikan kagune. Sebab, tim produksi harus memikirkan seberapa berat atau bagaimana kagune bergerak. ’’Aku bekerja keras untuk membuatnya tampak asli, seperti sesuatu yang bisa menjadi bagian dari tubuh manusia,’’ curhatnya.

Hagiwara nggak ingin kagune ditampilkan sebagai aksesori yang bikin film tampak keren. Pria 37 tahun itu memunculkan kagune sebagai bagian dari kisah secara keseluruhan. ’’Jadi, ketika menjadi ghoul, Kaneki harus belajar melihat kagune sebagai bagian dari dirinya, sebagai sesuatu yang indah,’’ tuturnya.

PR lain Hagiwara adalah membingkai sisi emosional Kaneki yang bertransformasi dari manusia normal menjadi ghoul. ’’Pada awalnya, Kaneki takut pada ghoul. Pada titik itu, aku mencoba membuat kagune tampak mengerikan. Tapi, setelah Kaneki menjadi ghoul dan mulai memahami keadaannya, aku menampilkannya lebih indah karena dia sudah nggak takut lagi terhadap dirinya sendiri,’’ paparnya. (c14/ran)

 

Nasib film live-action yang diadaptasi dari serial manga, anime, atau game populer itu hanya ada dua. Kalau sesuai atau malah melebihi ekspektasi dipuji setinggi langit, kalau gagal memenuhi harapan ya harus siap di-bully dengan statemen-statemen nyelekit.

          Tim produksi Tokyo Ghoul tampaknya belajar banyak dari pengalaman film live-action Shingeki no Kyojin yang panen hujatan. Untuk mengantisipasi kritisi fans hardcore manga Tokyo Ghoul, eksperimen modifikasi cerita diminimalkan.

          Hasilnya, nggak jelek-jelek amat. Ketika debut di bioskop-bioskop Jepang pada 29 Juli lalu, Tokyo Ghoul menduduki peringkat kelima di box office Jepang pada pekan pertama pemutarannya. Dari 166 ribu lembar tiket yang terjual, film produksi Geek Sight itu mendulang 232 juta yen (sekitar Rp 27,6 miliar).

Hingga awal pekan ini, Tokyo Ghoul sudah mencatat pendapatan kotor 554,4 juta yen (Rp 66 miliar) dari total target 1 miliar yen (Rp 119 miliar). Angka itu hanya dari penonton domestik, belum termasuk market internasional, termasuk Indonesia, yang baru kebagian jatah tayang bulan ini.

          Dibandingkan film live-action Shingeki no Kyojin, Tokyo Ghoul relatif sepi kritik. Keputusan sutradara Hagiwara Kentarou untuk setia pada alur tiga volume pertama manga karya Ishida Sui merupakan salah satu faktor penyelamat.

          Tokyo Ghoul berfokus pada perubahan drastis dalam hidup Kaneki Ken (diperankan Kubota Masataka), dari manusia biasa menjadi ghoul alias makhluk pemakan manusia, setelah mendapatkan donor organ dari Kamishiro Rize (Aoi Yuu) yang berusaha menyerangnya.

          Sejak menjadi ghoul, sama dengan anggota Anteiku lainnya, seperti Kirishima Touka (Shimizu Fumika), Ken jadi target perburuan Commission of Counter Ghoul (CCG). Dia harus main kucing-kucingan dengan anggota CCG, Mado Kureo (Oizumi Yo) dan Amon Koutarou (Suzuki Nobuyuki), untuk bertahan hidup.

          Agar orisinalitas taste ala manga tetap terjaga, Hagiwara memilih untuk nggak menonton versi animenya. ”Aku hanya membaca manganya. Itu pun setelah aku ditunjuk untuk menangani proyek ini,” ucapnya.

           Seperti dikutip dari Anime News Network, Hagiwara mengatakan bahwa dirinya nggak bermaksud menjadikan Tokyo Ghoul film action, melainkan perpaduan aksi dan drama. ”Kami nggak punya bujet (sekelas film) Hollywood, jadi dengan style pembuatan film Jepang, aku harus kreatif soal apa yang bisa kutunjukkan di layar,” katanya.

          Salah satu tantangan berat bagi Hagiwara adalah memvisualisasikan kagune. Sebab, tim produksi harus memikirkan seberapa berat atau bagaimana kagune bergerak. ”Aku bekerja keras untuk membuatnya tampak asli, seperti sesuatu yang bisa menjadi bagian dari tubuh manusia,” curhatnya.

          Hagiwara nggak ingin kagune ditampilkan sebagai aksesori yang bikin film tampak keren. Pria 37 tahun itu memunculkan kagune sebagai bagian dari kisah secara keseluruhan. ”Jadi, ketika Kaneki menjadi ghoul, dia harus belajar melihat kagune sebagai bagian dari dirinya, sebagai sesuatu yang indah,” tuturnya.     

          PR lain Hagiwara adalah membingkai sisi emosional Kaneki yang bertransformasi dari manusia normal menjadi ghoul. ”Pada awalnya, Kaneki takut pada ghoul. Pada titik itu aku mencoba membuat kagune tampak mengerikan. Tapi, setelah Kaneki menjadi ghoul dan mulai memahami keadaannya, aku menampilkannya lebih indah karena dia sudah nggak takut lagi terhadap dirinya sendiri,” paparnya. (ran)