Tegang Saat Wawancara. Dari Kiri: Nurazhryn M. Irwan, Putra Junginger, Irfan Nasela, Nadila M. Saleh dan Yusril Rafiqzal Z. Tegang Saat Wawancara. Dari Kiri: Nurazhryn M. Irwan, Putra Junginger, Irfan Nasela, Nadila M. Saleh dan Yusril Rafiqzal Z.

Hari ketiga kegiatan zetizen summit yang berlangsung di Trawas, Mojokerto, Jawa Timur penuh cerita. Para peserta alpha zetizen dari 34 provinsi memulai kegiatan dari pukul 04.00 dini hari. Dimana semua peserta dibangunkan oleh panitia dan berkumpul bersama semua alpha zetizen. setelah usai sarapan pagi seluruh alpha diarahkan apel pagi di areal kegiatan yang kemudian dilanjutkan dengan perkenalan yang dilanjutkan sesi penyampaikan informasi yang disampaikan oleh Secont Secretary for political affairs Carolyn Wilson yang turut menjadi bagian dalam program zetizen go to New Zeland. Carolyn yang baru 6 bulan di Indonesia hanya bisa menyampaikan tentang New Zeland yang di terjemahkan oleh panitia. Dalam kesempatan itu juga ada sesi tanya jawab oleh peserta alpha. Nurazhryn M. Irwan perwakilan zetizen dari Maluku Utara (Malut) ikut bertanya lebih jauh tentang suku asli New Zealand yakni Maori.

Peserta kemudian dilanjutkan dengan presentasi aksi yang dilakukan masing-masing dihadapan 4 juri. Nadila M. Saleh misalnya, mempresentasikan aksi tentang penyebaran virus GenRe untuk Indonesia. Dia menjelaskan, Indonesia berdasarkan survey mendapatkan bonus demografi pada tahun 2020 sampai 2030 karena memiliki jumlah remaja dari usia 14 sampai 24 tahun yang akan terus meningkat. Namun untuk meraih predikat tersebut juga harus dibarengi dengan berbagai kegiatan seperti mengurangi seks pra nikah dan nikah di usia muda. Sebab, kata Nadila hal tersebut sangat berdampak pada ekonomi. ”Untuk itu remaja kita harus berkulitas, ”ujar duta GenRe Malut itu. 
Sementara Putra Junginger membahas tentang aksi positifnya bersama anak Sekolah Luar Biasa (SLB). Dalam aksi ini ketua osis SMAN 5 Tidore Kepulauan itu bersama salah satu teman dan guru melakukan mengajar di SLB dengan suka rela. Menurutnya, pendidikan sendiri menjadi  hak dasar warga negara sehingga siapa saja berhak mendapatkannya. ”Termasuk anak-anak yang berkebutuhan khusus mereka harus mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas, ”ujarnya.salah satu aksinya agar para siswa tetap bersekolah yakni pihaknya bersedia melakukan antar jemput anak. Aksi itu mendapat dukungan dari salah satu warga yang siap menjadi donator yang membantu memberikan tongkat kepada siswa Aimar. ”Kita ajarkan mereka membaca menggunakan huruf braille, menghitung menggunakan sempoa mengenal bangun ruang, ”ujarnya.
Sementara Irfan Nasela mengangkat tentang meningkatkan minat budaya daerah pada generasi muda. Aksi terrsebut sebagai bagian dari keprihatian terhadap generasi muda sekarang yang lebih sering update terhadap budaya asing.
Berbeda dengan Yusril Rafiqzal Zuldan, ia menjelaskan proyek belajar bersama anak-anak di kelurahan stadion dan kemudian Nurazhryn M. Irwan menyentil tentang pemuda peduli lingkungan atau projek Green Generation Ternate. Didepan para juri duta peduli lingkungan asri dan bersih di Malut yang dilantik oleh Kemenpora itu mengangkat tentang kondisi alam Indonesia.
Pada saat sesi wawancara itu mereka dihadapkan pada kondisi yang sebenarnya menguji emosional. Dimana mereka diberi kesempatan untuk mempresentasekan sekaligus menghadapi interview dengan durasi yang sangat terbatas. Padahal aksi positif atau materi yang akan mereka sampaikan sangatlah kompleks dan kompregensif. "Jadi kami belajar untuk menyampaikan sesuatu secara singkat dan jelas,  namun tetap memiliki konsep yang komprehensif pula. Hari ini saya agak nervous tapi saya tidak takut menghadapi juri.Tutur Nurazrhyn usai presentasi.(cr-02)