PERNAH terpikir nggak dikemanakan karya seni yang selama ini dibuat? Kalau kalian berpikir bahwa karya seni tersebut dilupakan gitu aja, itu salah besar. Indonesian Visual Art Archive (IVAA) pun menjawab pertanyaan tersebut. Lewat acara Kuasa Ingatan, diselenggarakanlah Festival Arsip 2017 oleh IVAA di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH), Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta.

Acara yang diadakan sejak 19 September–1 Oktober 2017 itu menghapus pikiran masyarakat yang menganggap bahwa pengarsipan hanya dilakukan untuk dokumen-dokumen berdebu. Sebelum lebih jauh, yuk kita kenalan dulu sama IVAA!

Mereka adalah sebuah organisasi yang berkonsentrasi pada pengarsipan seluruh karya seni berformat visual. Misalnya, poster, film, serta jurnal-jurnal mengenai perkembangan seni rupa di Indonesia. IVAA terbentuk sejak April 2007. Sepuluh tahun jatuh bangun mengumpulkan arsip, perjalanan panjang satu dekade mereka selebrasikan lewat pameran Kuasa Ingatan.

’’Menurut kami, ada urgensi untuk membangkitkan minat masyarakat terhadap arsip. Sebab, itu penting. Arsip adalah tulang punggung sejarah. Kalau kita tidak peduli, lantas siapa?’’ ujar Tiarsa, public relation IVAA. Sebagai negara yang selalu memiliki keragaman sejarah, menuliskan arsip bukanlah perkara remeh-temeh.

Karena nggak disuguhi sejarah secara utuh, kita seolah hanya menikmati fragmen-fragmen dari sejarah itu sendiri. Nah, di situlah pentingnya pengarsipan. Kita memiliki bahan untuk membandingkan antara sejarah yang kita ketahui dan sejarah lain untuk mengorek kebenaran dari sejarah itu sendiri.

 Dalam pameran tersebut, IVAA mengamini bahwa rezim suatu kekuasaan memengaruhi arsip yang mereka simpan. Namun, IVAA menilai masih banyak rongga kekosongan dalam pengarsipan negara. Mereka hadir untuk menciptakan arsip itu dan menyuguhkan sejarah baru. Tujuannya, membentuk wacana alternatif bagi masyarakat.

’’Sejatinya, arsip tidak hanya dicari, tapi juga harus diciptakan. Menurut kami, pengarsipan negara pada seni rupa juga sangat minim. Kami tidak melihat mereka menumbuhkan budaya pengarsipan di masyarakat,’’ jelas Tiarsa. Dalam pameran tersebut, IVAA menerapkan komunikasi dua arah antara pengunjung dan pelaku ekshibisi itu sendiri.

Pengunjung diberi kebebasan untuk berinteraksi dengan berbagai instalasi karya pada pameran tersebut. Seperti halnya pada karya Uma Gumma, seniman asal Jogjakarta, pengunjung dibebaskan untuk mencorat-coret kanvas dengan cat dan kuas yang disediakan. Lalu, sembari asyik melukis, lewat kanvas itu, terdapat suara berisi wawancara dengan seniman tentang wacananya terhadap seni hari ini.

’’Ini merupakan upaya kami untuk menunjukkan bahwa seni itu tidak eksklusif. Siapa pun bisa menjadi partisipan. Kami sengaja memberikan interaksi agar tidak bosan. Jadi, sambil bermain, penggunjung juga belajar,’’ terangnya.

Bukan hanya itu, dalam papan raksasa sejarah seni rupa di Indonesia, pengunjung diberi kebebasan untuk menambahkan perkembangan seni lewat buku-buku yang disediakan maupun referensi sendiri.

’’Ini merupakan kebebasan akses bagi siapa pun untuk mengoreksi sejarah. Kami selalu terbuka untuk membantu siapa saja yang memerlukan atau menambahkan arsip kami. Banyak peneliti dari belahan dunia lain yang menggunakan akses kami,’’ terang Tiarsa.

Lewat pameran tersebut, masyarakat diajak untuk belajar menciptakan arsip atas sejarah hidup kita sendiri. Sebagaimana pesan Bung Karno, Bapak Proklamasi Indonesia, Jas Merah, jangan lupa akan sejarah! (rno/c22/dhs)